INIKAH YANG
DINAMAKAN SAHABAT ?
Dibuat Oleh : Mira Silviana Dewi
Dibuat Oleh : Mira Silviana Dewi
Sahabat adalah seseorang yang
sangat dekat dan yang mengetahui semua seluk beluk diri temannya layaknya
saudara kandung. Semua orang di dunia pasti memiliki seseorang sahabat, entah
itu perbedaan secara umur ataupun jenis kelamin. Banyak yang bilang jika seorang sahabat itu
bisa menjaga rahasia sahabat karibnya, selalu mendukung untuk menuju yang lebih
baik dan selalu ada disaat seorang sahabatnya senang ataupun susah. Tapi itu
hanya sebagian saja menurutku, mungkin ada yang benar-benar tulus untuk
bersahabat dan ada juga untuk keegoisan pada dirinya. Dan itu benar-benar ada!
Aku Silviana Dewi, atau biasanya
dipanggil Silvi yang sekarang duduk dibangku kelas 3 SMK dan aku mempunyai
sahabat yang bahkan sudah aku anggap seperti saudara perempuanku sendiri.
Namanya Andrini, aku dan dia sudah sangat lama saling kenal dan saling
berteman. Orang tua kami berdua sangat dekat seperti keluarga. Sejak kecil aku
sering sekali bermain dengan Andrini. Kemana-mana selalu bersama-sama dia.
Waktu terus berlalu hari berganti hari, minggu berganti minggu dan bahkan tahun
berganti tahun. Aku dan Andrini beranjak semakin dewasa dan tumbuh menjadi
seorang gadis.
Semasa SMP, aku masuk di satu
sekolah yang sama dengannya. Dan seperti biasa aku dan dia seperti permen karet
yang selalu melengket. Dan di sekolah, kami berdua selalu di bilang oleh guru
seperti bersaudara. Bahkan bukan hanya guru saja yang bilang kami seperti
saudara, teman-teman yang lain pun mengatakan seperti itu. Seiring berjalannya
waktu, aku dan dia sempat terjadi perselisihan. Walaupun itu hanya masalah yang
sangat kecil bisa menjadi sangat besar. Entahlah, apa yang aku lakukan sampai
masalah ini menjadi sangat besar. Pada saat itu aku memiliki seorang pacar yang
bernama Ihsan. Mungkin dia cemburu karena aku yang biasanya selalu bersama dia
kini berbalik dengan pacarku. Aku tidak pernah berfikir sekalipun tidak adil
kepada sahabat ataupun pacarku sendiri. Disatu sisi aku memiliki waktu untuk
bersama pacar dan di satu sisi lainnya aku memiliki waktu untuk sahabatku.
Hanya dikarenakan masalah seperti ini di masa SMP aku bertengkar dengannya.
Sampai akhirnya kenaikan kelas 3 SMP, kami berdua saling berbaikan. Waktu yang
sangat lama kami bertengkar dan pada akhirnya Andrini meminta maaf kepadaku.
Aku sudah dari awal memaafkannya dengan alasan itu hanya sebuah masalah kecil
serta kesalah pahaman yang dia salah tanggapi.
Tahun berganti dan masa SMP telah
terlewati, kami berdua LULUS serta teman-teman yang lainnya. Kini dimasa SMP
hanya menjadi sebuah kenangan. Aku dan Andrini harus berpisah karena tempat
sekolah yang kami inginkan berbeda. Aku berada di Sangatta sedangkan Andrini
memilih sekolah di Samarinda dan kami berdua mengambil Sekolah Kejuruan (SMK), dengan
jurusan yang sama yaitu TI (Teknik Informatika). Aku merasakan hal yang suram
setiap hariku. Yang biasanya aku canda, tawa, travelling dan berbagi cerita
dengan seseorang tapi sekarang dia jauh. Aku sibuk dengan kegiatan sekolah dan
begitu juga dengan dirinya yang sibuk. Terkadang aku dan Andrini saling
memberikan kabar hanya lewat telepon genggam. Senang yang kurasakan saat
mendengarnya dalam keadaan baik-baik saja.
Setahun sudah berlalu, aku
dengar-dengar dari orang tuanya Andrini kalo dia mau pindah sekolah, tepatnya
di sangatta dengan alasan Andrini tidak sanggup disana. Andrini pindah dimana
aku sekolah. Awalnya aku membayangkan akan serasa indah aku bisa barengan lagi
dengan sahabat kesayanganku. Aku dapat SMS dari Andrini kalau aku dan dia
sekelas. Pasti bakalan asik dan seru-seruan. Ya, hanya selama setengah bulan
saja aku selalu bersama denganya tapi setelah itu aku dan dia mulai merenggang
seperti masa-masa SMP dulu di karenakan masalah yang sepele hingga akhirnya
membawa dampak yang besar. Selama setengah bulan kedepan aku dan Andrini mulai tidak
saling menyapa ataupun berbicara. Yang biasanya bikin heboh suasana kelas
menjadi hening. Aku sebenarnya tidak tau apa-apa kenapa bisa begini, terulang
akan masa lalu lagi. Andrini mempunyai teman yang sebenarnya mereka itu temanku
juga yaitu Ifa dan Ita, yang pernah aku kenalkan ke Andrini untuk dia bisa
berkawan dengan yang lain.
Aku di SMK ini memiliki pacar yang
bernama Huda Syahputra, biasanya di panggil Huda. Tapi aku selalu membagi
antara waktuku dengan sahabat atau teman dan pacarku. Sampai aku mengikuti
ajang O2SN bidang bola basket, sepatah katapun tidak terucap dari Andrini untuk
memberikan dukungan padaku.
“Apa yang salah dari diriku? Hingga
sahabatku yang aku kenal dan bahkan sudah aku anggap saudara seperti ini,
Berubah dan serasa itu bukanlah Andrini yang aku kenal,” gumamku bingung. Tak
sengaja air mata berlinang dan jatuh menetes membasahi pipi ini. Sekitar 4 hari aku bertanding basket di Samarinda
dan tidak membuahkan hasil. Tidak apa-apa menang ataupun kalah itu biasa.
Sepulangku dari Samarinda hanya teman kelas dan pacar yang menyambut kedatanganku
dan mengucapkan sebagian kata-kata yang ingin mereka katakan. Tapi yang aku
cari tidak ada terlihat batang hidungnya untuk menyambutku. Andrini malah
mengabaikanku seolah aku ini memang bukan orang yang dikenalnya.
“Ya Allah, sungguh hati ini sangat
tidak tahan akan ini.” Masalah terus berpanjangan hingga akhirnya kenaikan
kelas 3 SMK. Jujur, terkadang hati ini selalu bertanya dan takut untuk
menanyakan sebenarnya ada apa dengan persahabatan ini? Yang sampai sekarang
selalu terus menerus tanpa ada hentinya hanya karena hal yang sepele dan bahkan
aku tidak tau apa yang dipermasalahkan.
Keesokan harinya, seperti biasa aku
yang selalu cerewet di kelas dan bikin suasana kelas heboh. Aku di kelas duduk
sebangku dengan temanku yang bernama Aslam Hamdani, biasa dipanggil Aslam.
Orangnya doyan banget dengan artis Korea, ya bisa di bilang anak K-Pop gitu. Aslam
ini sifatnya sedikit kecewek-cewekan dan laki-laki juga, separuh-separuhlah.
Aslam ini bersahabat mulai kelas 1 SMK dengan 2 cewek, yang bernama Ifa dan Ita.
Mereka selalu berbarengan setiap kemana-mana. Ifa dan Ita itupun adalah temanku,
yang sudah juga aku anggap saudara. “Teng … teng … teng …” bel pulangan
berbunyi. Bergegas aku berkemas. Eits, Aslam menghentikanku dan mulai
membisikkan sesuatu
“Sil, bolehkah aku bicara sebentar denganmu?
Ada yang mau aku beritahukan ke kamu tapi tunggu anak-anak pada keluaran ya?”.
Aku hanya mengangguk pada Aslam. Waktu anak-anak di kelas sudah pada berlalu.
Hanya aku dan Aslam di kelas, aku bertanya kepada Aslam,
“Apa yang ingin kamu beritahukan
padaku?” terlihat pada mukanya bahwa dia takut untuk memberitahukannya. “Begini
ya sil, aku hanya tidak mau kalau kamu selalu dimanfaatkan dengan mereka.” Aku
hanya bengong dan bingung, apa maksud dari perkataan Aslam.
“Haduh Sil, aku sedikit takut
memberitahukannya”. Aku makin bingung dan penasaran apa yang disembunyikannya.
“Sil, kamu itu hanya diperalat oleh
Ifa, Ita dan Andrini.” Dengan wajah yang serius, “Hah? Diperalat gimana
maksudmu?” Maklum aku lagi susah untuk cepat respon.
“Mereka itu tidak ada yang tulus
bertemanan dengan kamu sil, aku tidak mau kamu selalu diperalat walaupun aku ini
sahabatnya. Aku enggak tega kamu yang selalu disakiti dari belakang seperti
ini. Aku tau kalau kamu itu sahabatan lama dengan Andrini, katanya dia benci
banget sama kamu karena kamu pernah teriakin dia di lapangan waktu dia sama
pacarnya. Aku juga bingung dan takut untuk mengatakan sama kamu sil.” Entahlah,
aku tidak bisa berkata apa-apa lagi. Air mataku mengalir dengan deras sudah seperti
air terjun.
“Hiks … hiks.. kenapa mereka setega
itu sama aku lam? Apa salahku sama mereka? Aku tidak menyangka kalau Ifa dan
Ita hanya memperalat aku, terlebih lagi Andrini.” Tak kuasa aku menahan dan menangis
tesedu-sedu.
“Sil, aku memberitahukan kamu juga
karena aku tidak mau kamu terus-terusan dibeginikan. Tidak hanya itu semua
rahasiamu sudah aku tau dan bahkan yang menceritakan itu semua adalah Andrini.”
Ya Allah aku merasakan sakit hati yang sangat luar biasa. Orang yang sudah aku
anggap sebagai saudara sendiri begitu teganya membongkar semua rahasia yang aku
miliki kepada seseorang yang baru dikenal dan ditemannya selama 2 tahun.
“Aslam, makasih banget untuk
informasinya. Aku hanya tidak menyangka sama sekali dengan Andrini hanya karena
aku teriakin seperti itu hingga akhirnya begini? Aku bahkan sudah menganggap
dia sebagai saudaraku, karena aku sangat percaya dan menyayanginya hiks ..
hiks. ..” mata ini terasa sakit karena air mata yang terus menetes.
“Sudahlah sil, kini kamu bisa
memilih dan memilah yang mana kamu harus jadikan seorang teman. Aku harap kamu
makin dewasa dengan semua ini.” Aslam yang memberikan aku semangat. Sedikitpun
aku tidak merasakan dendam, hanya kenapa setega itu orang-orang yang sudah aku
percayai.
Aku sadar dengan apa yang terjadi
sekarang, aku akan memaafkan Andrini tapi aku hanya menganggapnya teman biasa.
Mungkin tidak akan seperti dulu lagi. Sahabat itu tidak selamanya bisa menjadi
baik, ada saatnya sahabat menjadi jahat di belakang dan berkhianat karena
keegoisan hatinya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar