Rabu, 13 Juli 2016

INIKAH YANG DINAMAKAN SAHABAT ?

INIKAH YANG DINAMAKAN SAHABAT ?
Dibuat Oleh : Mira Silviana Dewi

   Sahabat adalah seseorang yang sangat dekat dan yang mengetahui semua seluk beluk diri temannya layaknya saudara kandung. Semua orang di dunia pasti memiliki seseorang sahabat, entah itu perbedaan secara umur ataupun jenis kelamin.  Banyak yang bilang jika seorang sahabat itu bisa menjaga rahasia sahabat karibnya, selalu mendukung untuk menuju yang lebih baik dan selalu ada disaat seorang sahabatnya senang ataupun susah. Tapi itu hanya sebagian saja menurutku, mungkin ada yang benar-benar tulus untuk bersahabat dan ada juga untuk keegoisan pada dirinya. Dan itu benar-benar ada!
   Aku Silviana Dewi, atau biasanya dipanggil Silvi yang sekarang duduk dibangku kelas 3 SMK dan aku mempunyai sahabat yang bahkan sudah aku anggap seperti saudara perempuanku sendiri. Namanya Andrini, aku dan dia sudah sangat lama saling kenal dan saling berteman. Orang tua kami berdua sangat dekat seperti keluarga. Sejak kecil aku sering sekali bermain dengan Andrini. Kemana-mana selalu bersama-sama dia. Waktu terus berlalu hari berganti hari, minggu berganti minggu dan bahkan tahun berganti tahun. Aku dan Andrini beranjak semakin dewasa dan tumbuh menjadi seorang gadis.

   Semasa SMP, aku masuk di satu sekolah yang sama dengannya. Dan seperti biasa aku dan dia seperti permen karet yang selalu melengket. Dan di sekolah, kami berdua selalu di bilang oleh guru seperti bersaudara. Bahkan bukan hanya guru saja yang bilang kami seperti saudara, teman-teman yang lain pun mengatakan seperti itu. Seiring berjalannya waktu, aku dan dia sempat terjadi perselisihan. Walaupun itu hanya masalah yang sangat kecil bisa menjadi sangat besar. Entahlah, apa yang aku lakukan sampai masalah ini menjadi sangat besar. Pada saat itu aku memiliki seorang pacar yang bernama Ihsan. Mungkin dia cemburu karena aku yang biasanya selalu bersama dia kini berbalik dengan pacarku. Aku tidak pernah berfikir sekalipun tidak adil kepada sahabat ataupun pacarku sendiri. Disatu sisi aku memiliki waktu untuk bersama pacar dan di satu sisi lainnya aku memiliki waktu untuk sahabatku. Hanya dikarenakan masalah seperti ini di masa SMP aku bertengkar dengannya. Sampai akhirnya kenaikan kelas 3 SMP, kami berdua saling berbaikan. Waktu yang sangat lama kami bertengkar dan pada akhirnya Andrini meminta maaf kepadaku. Aku sudah dari awal memaafkannya dengan alasan itu hanya sebuah masalah kecil serta kesalah pahaman yang dia salah tanggapi.
   Tahun berganti dan masa SMP telah terlewati, kami berdua LULUS serta teman-teman yang lainnya. Kini dimasa SMP hanya menjadi sebuah kenangan. Aku dan Andrini harus berpisah karena tempat sekolah yang kami inginkan berbeda. Aku berada di Sangatta sedangkan Andrini memilih sekolah di Samarinda dan kami berdua mengambil Sekolah Kejuruan (SMK), dengan jurusan yang sama yaitu TI (Teknik Informatika). Aku merasakan hal yang suram setiap hariku. Yang biasanya aku canda, tawa, travelling dan berbagi cerita dengan seseorang tapi sekarang dia jauh. Aku sibuk dengan kegiatan sekolah dan begitu juga dengan dirinya yang sibuk. Terkadang aku dan Andrini saling memberikan kabar hanya lewat telepon genggam. Senang yang kurasakan saat mendengarnya dalam keadaan baik-baik saja.
   Setahun sudah berlalu, aku dengar-dengar dari orang tuanya Andrini kalo dia mau pindah sekolah, tepatnya di sangatta dengan alasan Andrini tidak sanggup disana. Andrini pindah dimana aku sekolah. Awalnya aku membayangkan akan serasa indah aku bisa barengan lagi dengan sahabat kesayanganku. Aku dapat SMS dari Andrini kalau aku dan dia sekelas. Pasti bakalan asik dan seru-seruan. Ya, hanya selama setengah bulan saja aku selalu bersama denganya tapi setelah itu aku dan dia mulai merenggang seperti masa-masa SMP dulu di karenakan masalah yang sepele hingga akhirnya membawa dampak yang besar. Selama setengah bulan kedepan aku dan Andrini mulai tidak saling menyapa ataupun berbicara. Yang biasanya bikin heboh suasana kelas menjadi hening. Aku sebenarnya tidak tau apa-apa kenapa bisa begini, terulang akan masa lalu lagi. Andrini mempunyai teman yang sebenarnya mereka itu temanku juga yaitu Ifa dan Ita, yang pernah aku kenalkan ke Andrini untuk dia bisa berkawan dengan yang lain. 
   Aku di SMK ini memiliki pacar yang bernama Huda Syahputra, biasanya di panggil Huda. Tapi aku selalu membagi antara waktuku dengan sahabat atau teman dan pacarku. Sampai aku mengikuti ajang O2SN bidang bola basket, sepatah katapun tidak terucap dari Andrini untuk memberikan dukungan padaku.
“Apa yang salah dari diriku? Hingga sahabatku yang aku kenal dan bahkan sudah aku anggap saudara seperti ini, Berubah dan serasa itu bukanlah Andrini yang aku kenal,” gumamku bingung. Tak sengaja air mata berlinang dan jatuh menetes membasahi pipi ini.  Sekitar 4 hari aku bertanding basket di Samarinda dan tidak membuahkan hasil. Tidak apa-apa menang ataupun kalah itu biasa. Sepulangku dari Samarinda hanya teman kelas dan pacar yang menyambut kedatanganku dan mengucapkan sebagian kata-kata yang ingin mereka katakan. Tapi yang aku cari tidak ada terlihat batang hidungnya untuk menyambutku. Andrini malah mengabaikanku seolah aku ini memang bukan orang yang dikenalnya.
“Ya Allah, sungguh hati ini sangat tidak tahan akan ini.” Masalah terus berpanjangan hingga akhirnya kenaikan kelas 3 SMK. Jujur, terkadang hati ini selalu bertanya dan takut untuk menanyakan sebenarnya ada apa dengan persahabatan ini? Yang sampai sekarang selalu terus menerus tanpa ada hentinya hanya karena hal yang sepele dan bahkan aku tidak tau apa yang dipermasalahkan.
Keesokan harinya, seperti biasa aku yang selalu cerewet di kelas dan bikin suasana kelas heboh. Aku di kelas duduk sebangku dengan temanku yang bernama Aslam Hamdani, biasa dipanggil Aslam. Orangnya doyan banget dengan artis Korea, ya bisa di bilang anak K-Pop gitu. Aslam ini sifatnya sedikit kecewek-cewekan dan laki-laki juga, separuh-separuhlah. Aslam ini bersahabat mulai kelas 1 SMK dengan 2 cewek, yang bernama Ifa dan Ita. Mereka selalu berbarengan setiap kemana-mana. Ifa dan Ita itupun adalah temanku, yang sudah juga aku anggap saudara. “Teng … teng … teng …” bel pulangan berbunyi. Bergegas aku berkemas. Eits, Aslam menghentikanku dan mulai membisikkan sesuatu
 “Sil, bolehkah aku bicara sebentar denganmu? Ada yang mau aku beritahukan ke kamu tapi tunggu anak-anak pada keluaran ya?”. Aku hanya mengangguk pada Aslam. Waktu anak-anak di kelas sudah pada berlalu. Hanya aku dan Aslam di kelas, aku bertanya kepada Aslam,
“Apa yang ingin kamu beritahukan padaku?” terlihat pada mukanya bahwa dia takut untuk memberitahukannya. “Begini ya sil, aku hanya tidak mau kalau kamu selalu dimanfaatkan dengan mereka.” Aku hanya bengong dan bingung, apa maksud dari perkataan Aslam.
“Haduh Sil, aku sedikit takut memberitahukannya”. Aku makin bingung dan penasaran apa yang disembunyikannya.
“Sil, kamu itu hanya diperalat oleh Ifa, Ita dan Andrini.” Dengan wajah yang serius, “Hah? Diperalat gimana maksudmu?” Maklum aku lagi susah untuk cepat respon.
“Mereka itu tidak ada yang tulus bertemanan dengan kamu sil, aku tidak mau kamu selalu diperalat walaupun aku ini sahabatnya. Aku enggak tega kamu yang selalu disakiti dari belakang seperti ini. Aku tau kalau kamu itu sahabatan lama dengan Andrini, katanya dia benci banget sama kamu karena kamu pernah teriakin dia di lapangan waktu dia sama pacarnya. Aku juga bingung dan takut untuk mengatakan sama kamu sil.” Entahlah, aku tidak bisa berkata apa-apa lagi. Air mataku mengalir dengan deras sudah seperti air terjun.
“Hiks … hiks.. kenapa mereka setega itu sama aku lam? Apa salahku sama mereka? Aku tidak menyangka kalau Ifa dan Ita hanya memperalat aku, terlebih lagi Andrini.” Tak kuasa aku menahan dan menangis tesedu-sedu.
“Sil, aku memberitahukan kamu juga karena aku tidak mau kamu terus-terusan dibeginikan. Tidak hanya itu semua rahasiamu sudah aku tau dan bahkan yang menceritakan itu semua adalah Andrini.” Ya Allah aku merasakan sakit hati yang sangat luar biasa. Orang yang sudah aku anggap sebagai saudara sendiri begitu teganya membongkar semua rahasia yang aku miliki kepada seseorang yang baru dikenal dan ditemannya selama 2 tahun.
“Aslam, makasih banget untuk informasinya. Aku hanya tidak menyangka sama sekali dengan Andrini hanya karena aku teriakin seperti itu hingga akhirnya begini? Aku bahkan sudah menganggap dia sebagai saudaraku, karena aku sangat percaya dan menyayanginya hiks .. hiks. ..” mata ini terasa sakit karena air mata yang terus menetes.
“Sudahlah sil, kini kamu bisa memilih dan memilah yang mana kamu harus jadikan seorang teman. Aku harap kamu makin dewasa dengan semua ini.” Aslam yang memberikan aku semangat. Sedikitpun aku tidak merasakan dendam, hanya kenapa setega itu orang-orang yang sudah aku percayai.

   Aku sadar dengan apa yang terjadi sekarang, aku akan memaafkan Andrini tapi aku hanya menganggapnya teman biasa. Mungkin tidak akan seperti dulu lagi. Sahabat itu tidak selamanya bisa menjadi baik, ada saatnya sahabat menjadi jahat di belakang dan berkhianat karena keegoisan hatinya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar